Cerita Pendek Pilihan: Rahasia di Balik Diamnya Nani

Daftar Isi
Rahasia di Balik Diamnya Nani
Rahasia di Balik Diamnya Nani


KIDS ZONE - Udara siang itu terasa gerah di dalam kelas 6A. Suara riuh rendah teman-teman sekelas yang sedang asyik berpencar saat jam istirahat tidak mampu mengalihkan fokus Susi dari satu titik: bangku di pojok belakang. Di sana, Nani duduk mematung. Tangannya memegang pulpen, namun matanya kosong menatap buku catatan yang terbuka.

"Apa iya?" tanya Nina tiba-tiba, memecah lamunan Susi. Nina adalah salah satu sahabat terdekat Nani dan Susi. Mereka bertiga dikenal sebagai "Tiga Serangkai" yang tak terpisahkan sejak kelas satu.

Susi menghela napas panjang, matanya masih tak lepas dari sosok Nani. "Iya, Nin... aku lihat dia menyendiri terus. Bahkan di rumahnya pun, dia cuma belajar dan mengurung diri selama sepekan ini. Kalau diajak main, tidak ada respons. Kemarin aku coba ajak kerja kelompok di teras, dia cuma menggeleng tanpa bicara sepatah kata pun. Di sekolah? Kamu lihat sendiri, kan? Dia seperti punya dunianya sendiri. Diajak jalan-jalan ke kantin atau sekadar berkeliling lapangan saja tidak mau."

Nani, di mata teman-temannya, adalah matahari bagi kelompok mereka. Ia adalah sosok yang paling periang, yang tawanya paling nyaring, dan ide-ide mainnya paling menyenangkan. Namun, mendadak, awan hitam seolah menutup matahari itu. Tepat sepekan sebelum hari ulang tahun Susi, Nani berubah total menjadi sosok yang dingin dan tertutup. Upaya Susi untuk menghibur dengan lelucon konyol atau membawakan cokelat kesukaannya sama sekali tidak membuahkan hasil.

"Apa dia ingin menjadi seorang dewasa yang serius secara mendadak?" bisik Susi ragu. "Atau... apakah ada sesuatu yang ingin dia sampaikan melalui sikapnya yang aneh ini? Aku merasa ada yang salah, Nin."

Nina terdiam sejenak. Namun, di balik wajah bingungnya, tersimpan sebuah rahasia kecil. "Ehm.. apakah kau tahu apa penyebabnya, Susi?" ucap Nina dalam hati sambil menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirnya. Susi yang sedang sibuk mengacak-acak rambutnya karena frustrasi tidak menyadari kilatan jahil di mata Nina.

Tanpa banyak bicara, Nina mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen dari tasnya, lalu bergegas keluar kelas dengan alasan ingin ke toilet. Susi hanya menatap kepergiannya dengan dahi berkerut.

"Jika tidak ada PR sore ini, kita sama-sama jenguk Nani di rumahnya secara resmi," cetus Nina saat kembali ke kelas beberapa menit kemudian.

"Kenapa tidak sekarang saja saat pulang sekolah nanti?" tanya Susi cepat. Ia ingin segera menyelesaikan misteri perubahan sikap sahabatnya itu.

Nina sempat tertegun. Ia tahu bahwa rencana kejutan yang sedang disusunnya bersama Nani bisa berantakan jika Susi datang terlalu cepat. "E... Karena di sini tidak aman, Sus. Banyak teman-teman lain. Kita tidak bisa bicara dari hati ke hati di keramaian sekolah. Kalau di rumah Nani, suasananya pasti lebih tenang, tidak ada keributan. Jadi Nani bisa benar-benar menghayati ucapan kita dan mungkin mau jujur kenapa dia berubah."

Sebetulnya, Nina berbohong. Ia memilih waktu sore itu karena ia tahu banyak saudara jauh Nani yang datang berkunjung untuk membantu mempersiapkan kejutan besar. Nina berharap keramaian di rumah Nani akan membuat Susi kesulitan menginterogasi Nani secara mendalam. Dengan kata lain, rencana Susi untuk mencari tahu "kebenaran" hari itu bakal dijegal secara halus.

Kecurigaan yang Memuncak

Teng... Teng... Teng...

Bel masuk berbunyi nyaring. Saat para siswa berebut masuk ke kelas, Susi menangkap sebuah momen singkat yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Ia melihat Nina mengedipkan mata dengan sengaja ke arah Nani yang masih duduk di pojok. Dan yang lebih mengejutkan, Nani membalasnya dengan senyum kecil yang sangat rahasia sebelum kembali menunduk.

Ada rasa perih yang tiba-tiba menusuk hati Susi. Apa yang Nina maksud dengan kedipan itu? Sejak kapan mereka punya rahasia berdua? pikir Susi.

Sepanjang pelajaran Matematika, Susi sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Rumus-rumus di papan tulis tampak seperti benang kusut di matanya. Pikirannya melayang jauh. Ia mulai merasa dikhianati. Apakah ia telah melakukan kesalahan? Apakah Nina dan Nani sedang membicarakannya di belakang? Kecurigaan itu tumbuh seperti jamur di musim hujan, menyebar dan menggelapkan suasana hatinya.

Setiap kali Susi menoleh ke arah Nina, sahabatnya itu tampak asyik mencatat, namun sesekali ia melihat Nina menulis sesuatu di kertas kecil lalu meremasnya. Apakah itu surat untuk Nani? batin Susi geram.

Rencana yang "Gagal"

Sesuai janji, sepulang sekolah dan setelah makan siang yang terasa hambar, Susi dan Nina berangkat menuju rumah Nani. Susi sudah menyiapkan mental untuk bertanya secara blak-blakan. Namun, setibanya di depan pagar rumah Nani, harapan Susi runtuh.

Halaman rumah Nani dipenuhi motor dan mobil. Suara tawa orang dewasa dan tangisan anak kecil terdengar dari dalam. Seperti dugaan Nina, banyak saudara Nani dari luar kota yang datang berkunjung.

"Wah, ramai sekali ya," ujar Nina dengan nada yang terdengar (setidaknya bagi Susi) agak dibuat-buat. "Sepertinya kita tidak bisa bicara serius sekarang, Sus."

Susi hanya terdiam, bibirnya terkatup rapat. Ia melihat wajah Nina yang tersenyum tipis—sebuah senyum kemenangan yang sulit dijelaskan. Dan lagi-lagi, keanehan muncul. Saat mereka masuk ke ruang tamu yang penuh orang, Susi melihat Nina mengacungkan jempol ke arah Nani yang sedang membantu ibunya menyajikan minuman. Nani mengangguk samar.

Rencana Susi untuk menginterogasi Nani gagal total. Mereka hanya duduk sebentar, berbasa-basi dengan orang tua Nani, lalu pulang. Sepanjang jalan pulang, Susi hanya menjawab dengan "ya" dan "tidak" atas semua ucapan Nina.

Malam yang Panjang dan Pagi yang Menyakitkan

Malam itu, Susi tidak bisa memejamkan mata. Kamarnya yang biasanya terasa nyaman kini terasa sesak. Ia terus memutar kembali ingatan sepekan terakhir. Sahabat-sahabatnya merahasiakan sesuatu darinya. Padahal, lusa adalah hari ulang tahunnya. Biasanya, mereka sudah sibuk merencanakan makan bakso bersama atau sekadar bertukar kado murah meriah. Tapi tahun ini? Nani membisu dan Nina tampak mencurigakan.

"Apakah mereka sudah bosan berteman denganku?" Susi berbisik pada kegelapan. Ia merasa seolah-olah ia adalah orang asing di antara mereka berdua. Setelah berjam-jam berguling ke kanan dan ke kiri, rasa lelah akhirnya membawa Susi ke alam mimpi yang tidak tenang.

Paginya, Susi bangun dengan mata sembab. Saat ia membuka jendela kamar untuk mencari udara segar, ia melihat dua sosok yang sangat dikenalnya sedang berjalan perlahan di depan pagar rumahnya. Itu Nani dan Nina!

Mereka berjalan sambil saling berbisik, sesekali tertawa kecil yang tertahan. Saat melewati gerbang rumah Susi, mereka mempercepat langkah seolah takut ketahuan.

"Anak aneh! Sahabat macam apa itu?" umpat Susi dalam hati. Amarahnya memuncak. Ia merasa dipermainkan. Ia mulai berpikir untuk benar-benar menjauh dari mereka. Rasa sakit karena merasa diabaikan jauh lebih pedih daripada rasa marah. Air matanya kembali bercucuran, membasahi wajahnya yang manis. Ia merasa sendirian di dunia ini.

Kejutan di Balik Awan Mendung

Susi memutuskan untuk tidak keluar kamar sepanjang pagi itu. Ia berpura-pura sakit agar tidak perlu melihat wajah kedua sahabatnya di sekolah, kebetulan hari itu adalah hari Sabtu di mana kelas tambahan ditiadakan. Ia meringkuk di bawah selimut, meratapi persahabatannya yang ia anggap telah hancur.

"Susi ..." panggil Ibunya dari balik pintu.

Susi menghapus air matanya dengan kasar. "Iya, Bu. Ada apa? Susi agak pusing."

"Ada tamu di bawah. Nina dan Nani datang!" jawab Ibunya dengan nada suara yang terdengar ceria.

Susi tertegun. Apa? Nani dan Nina? Mereka berani datang ke sini setelah mengabaikanku seminggu ini? pikir Susi dengan emosi yang campur aduk antara marah dan penasaran.

Dengan langkah gontai dan hati yang masih berdenyut sakit, ia beranjak turun ke lantai bawah. Ia sudah menyiapkan kata-kata pedas untuk mengusir mereka. Namun, saat kakinya menginjak anak tangga terakhir, langkahnya terhenti.

Di ruang tamu, Nina dan Nani berdiri berdampingan. Ruangan itu telah dihias secara sederhana dengan beberapa balon yang sepertinya ditiup terburu-buru. Di tangan Nani, terdapat sebuah kue kecil dengan lilin angka yang belum dinyalakan. Di permukaan kue itu tertulis dengan lapisan gula berwarna merah jambu: "HAPPY BIRTHDAY SUSI!"

"Selamat ulang tahun, Susi!" seru mereka berdua serempak.

Susi terpaku. Ia melihat wajah Nani yang kini kembali cerah, tidak lagi dingin seperti es. Ia melihat Nina yang tertawa lebar, menatapnya dengan binar jenaka.

"Kamu... kenapa?" tanya Susi terbata.

Nani melangkah maju. "Maafkan aku ya, Sus. Seminggu ini aku harus pura-pura jadi 'anak antisosial' dan rajin belajar. Sebenarnya, aku bukan belajar buku pelajaran, tapi belajar membuat resep kue ini dari bibiku yang datang dari kota lain. Aku ingin membuatkan kue ulang tahun pertama dengan tanganku sendiri untukmu. Nina membantuku menjaga rahasia ini agar kamu tidak curiga... ya, meskipun sepertinya Nina malah membuatmu makin curiga dengan kedipan-kedipan anehnya itu!"

Nina terbahak. "Habisnya, susah sekali menahan tawa melihat wajah bingungmu, Sus. Maaf ya, aku harus jadi 'kaki tangan' Nani agar kejutan ini berhasil. Rencana jenguk ke rumah kemarin itu sebenarnya cara kami untuk memastikan kamu tidak tahu kalau di dapur Nani sedang sibuk memanggang roti!"

Susi merasakan dadanya sesak, tapi kali ini bukan karena sedih. Rasa haru yang luar biasa membuncah. Air mata yang sejak tadi pagi turun karena kecewa, kini berubah menjadi air mata bahagia. Ia tak menyangka bahwa perubahan sikap Nani yang menyiksa perasaannya itu adalah bagian dari sebuah rencana besar untuk membahagiakannya.

Ia sadar sekarang, bahwa seorang sahabat sejati tidak mungkin berbuat sesuatu yang menjauh tanpa alasan yang kuat. Di balik diamnya Nani, ada kasih sayang yang sedang dipersiapkan. Di balik tingkah aneh Nina, ada usaha keras untuk menjaga sebuah kejutan.

Susi tersenyum lebar, menghapus sisa air matanya, lalu maju memeluk kedua sahabatnya itu dengan erat. Bau harum kue cokelat dan tulusnya pelukan mereka menghapus semua prasangka buruk yang sempat bersarang di kepalanya.

"Kalian benar-benar jahat membuatku menangis semalaman!" canda Susi di tengah pelukannya.

"Tapi kuenya enak, kan? Ayo, tiup lilinnya!" sahut Nani riang.

Siang itu, di ruang tamu rumah Susi, tawa "Tiga Serangkai" kembali terdengar nyaring. Suka dan duka memang selalu ada dalam bumbu persahabatan, namun pada akhirnya, ketulusanlah yang akan menjadi pemenangnya.